TERBARU
Memuat berita terbaru...
Peneliti Bor Formasi Durupinar di Turki, Selidiki Dugaan Lokasi Bahtera Nuh
Peneliti mengebor Formasi Durupinar hingga 18 meter untuk menguji dugaan lokasi Bahtera Nuh dan menganalisis struktur bawah permukaannya.

Kapsultekno.com – Misteri lokasi Bahtera Nuh kembali menjadi perhatian setelah tim peneliti memulai pengeboran inti (core drilling) di Formasi Durupinar, Turki. Struktur geologi berbentuk kapal yang berada di dekat Gunung Ararat tersebut telah menjadi objek perdebatan selama lebih dari enam dekade.

Penelitian terbaru dilakukan oleh tim Noah’s Ark Scans bersama akademisi Turki dan peneliti internasional. Proyek ini dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila, profesor arkeologi dari Sivas Cumhuriyet University, dan telah memperoleh izin resmi dari otoritas Turki.

Dalam perkembangan terbaru, tim menyebut pengeboran telah mencapai kedalaman hingga 18 meter atau hampir 60 kaki. Sampel inti yang diperoleh akan menjalani analisis laboratorium, termasuk pemeriksaan komposisi, kandungan organik, mineralogi, dan karakteristik lapisan tanah.

(Foto: Noah Ark Scans)

Tim juga melaporkan menemukan material kaya organik serta sejumlah rongga yang sebagian berisi lumpur dan air. Namun, temuan tersebut masih harus diuji secara independen sehingga belum dapat dianggap sebagai bukti keberadaan Bahtera Nuh.

Dalam pernyataan yang dirilis Noah’s Ark Scans pada 23 September 2026, Andrew Jones, pendiri Noah’s Ark Scans sekaligus Wakil Presiden Noah’s Ark Research Project, mengatakan, “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kami melakukan survei pengeboran inti dalam yang ekstensif dan diizinkan di dalam dan di luar lokasi Durupınar Noah's Ark, memulihkan sampel dari kedalaman hingga 18 meter, hampir 60 kaki".

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tim peneliti menemukan lapisan-lapisan bahan organik yang kaya yang diyakini bisa menjadi sisa-sisa Ark yang membusuk.

"Kita menghadapi beberapa rongga, termasuk yang dipenuhi lumpur dan air. Tidak ada batuan dasar atau batu kapur padat sejauh ini yang telah diidentifikasi dalam lubang yang dibor di dalam formasi. Temuan saat ini menantang klaim bahwa ini hanyalah bentuk alami yang terbuat dari batu kapur atau batuan dasar," terangnya.

"Ini adalah terobosan besar dalam kemampuan kami untuk menyelidiki apa yang ada di balik situs yang luar biasa ini. Kami sekarang mengumpulkan sampel fisik untuk analisis laboratorium, dengan lebih banyak kerja lapangan yang direncanakan tahun depan. Musim pertama tim internasional kami ini telah membuka babak yang sama sekali baru dalam investigasi Noah's Ark," tutur Jones.

(Foto: Noah Ark Scans)

Pada salah satu titik pengeboran, tim juga menyatakan mata bor berhenti setelah menghantam lapisan yang sangat keras sekitar 4–5 meter di bawah permukaan. Mereka menduga material tersebut berpotensi berupa kayu yang mengalami proses pembatuan atau material termineralisasi, tetapi kemungkinan tersebut masih menunggu pengujian laboratorium.

Robot Gopher Disiapkan untuk Eksplorasi

Selain mengambil sampel, peneliti berencana menggunakan robot bawah tanah bernama GOPHER untuk memeriksa rongga dan jalur bawah permukaan yang sebelumnya teridentifikasi melalui survei georadar.

Robot tersebut dirancang untuk masuk melalui lubang bor berdiameter kecil sehingga penelitian dapat dilakukan tanpa membuka penggalian besar di permukaan. Teknologi ini diharapkan memberikan gambaran langsung mengenai kondisi bagian dalam formasi.

Formasi Durupinar Masih Kontroversial

Formasi Durupinar pertama kali teridentifikasi melalui foto udara oleh Kapten İlhan Durupınar pada 1959. Struktur sepanjang sekitar 157 meter itu menarik perhatian karena bentuknya menyerupai kapal dan lokasinya berada di kawasan Gunung Ararat.

Namun, klaim bahwa formasi tersebut merupakan sisa Bahtera Nuh belum diterima sebagai fakta ilmiah. Penelitian sebelumnya, termasuk publikasi geologi oleh Lorence Collins dan David Fasold pada 1996, menyimpulkan bahwa Durupinar merupakan formasi geologi alami.

Karena itu, hasil pengeboran 2026 menjadi penting untuk menguji kembali komposisi dan struktur bawah permukaan secara langsung. Noah’s Ark Scans sendiri menyatakan bahwa data radar maupun anomali bawah tanah tidak otomatis membuktikan keberadaan kapal kuno.

Dengan sampel fisik yang kini dapat dianalisis di laboratorium, penelitian tersebut memasuki tahap baru. Hasil pemeriksaan material dan data geologi selanjutnya akan menentukan apakah anomali di Formasi Durupinar memiliki penjelasan geologi alami atau memerlukan interpretasi lain.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *