Kapsultekno.com - Kebakaran lahan gambut di Indonesia turut menjadi perhatian badan antariksa Amerika Serikat, NASA. NASA mengamati titik api yang membakar permukaan hingga lapisan bawah tanah.
Pengamatan NASA yang dipublikasikan pada September 2026 menunjukkan bahwa kebakaran gambut tidak selalu berhenti ketika api di permukaan sudah menghilang. Api dapat terus membara di bawah tanah dan sulit dipadamkan hingga hujan turun dalam jumlah yang cukup.
Berdasarkan data Copernicus, layanan pemantauan iklim Uni Eropa, kebakaran di Indonesia melepaskan sekitar 19,7 juta ton karbon dioksida selama 1–7 September 2026. Angka tersebut menyumbang lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode yang sama.
Emisi itu juga tercatat 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman Indonesia. Lonjakan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu sumber emisi kebakaran terbesar di dunia pada periode tersebut.
NASA mengamati kebakaran melalui instrumen MODIS yang terpasang pada satelit Aqua. Citra yang diambil pada 1 September memperlihatkan sebaran titik panas di sejumlah wilayah Indonesia.

Terkini, pantauan NASA melalui Eyes on the Earth yang bisa diakses oleh publik via website masih menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia dikepung oleh karbon monoksida. Dalam peta NASA tersebut, daerah yang berwarna merah menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang tinggi ketimbang wilayah lainnya yang berwarna kuning atau hijau.
Mengapa Lahan Gambut Bisa Terbakar di Bawah Tanah?
Lahan gambut terbentuk dari akumulasi material tumbuhan yang mengalami pelapukan secara tidak sempurna selama waktu yang panjang. Dalam kondisi alami, gambut menyimpan banyak air sehingga relatif sulit terbakar.
Masalah muncul ketika lahan dikeringkan untuk perkebunan, pertanian, atau penggunaan lainnya. Penurunan muka air membuat lapisan gambut mengering dan lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Indonesia memiliki sekitar 36 persen dari total lahan gambut tropis dunia, dengan sebaran luas di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, menurut laporan Colombiaone.
Kebakaran juga dapat dipicu oleh aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan menggunakan api. Ketika kondisi lingkungan semakin kering, api lebih mudah menyebar dan menjalar ke lapisan gambut.
Fenomena El Niño memperburuk situasi dengan mengurangi curah hujan dan meningkatkan kekeringan. NASA melaporkan bahwa sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit hujan atau tidak menerima hujan sama sekali pada awal Agustus 2026.
Api di bawah permukaan menjadi sangat sulit dipadamkan karena bara dapat bertahan di dalam material organik. Tanpa hujan yang cukup untuk membasahi kembali lapisan gambut, kebakaran berpotensi berlangsung dalam waktu lama.
Asap Gambut Mengandung Polutan Berbahaya
Kebakaran gambut tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga melepaskan berbagai polutan dari material organik yang kaya karbon. Partikel halus berbahaya dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. Paparan asap juga berpotensi memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan masalah kesehatan tertentu.
Selain berdampak terhadap kesehatan, pembakaran gambut melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan selama bertahun-tahun. Metana yang dihasilkan juga berkontribusi terhadap pemanasan global.
