Kapsultekno.com - Character.AI, perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) yang dikenal lewat layanan chatbot interaktif, mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan untuk membuka proses penjualan aset perusahaan di bawah pengawasan pengadilan, dengan Disney menjadi calon pembeli awal melalui tawaran senilai US$20 juta atau sekitar Rp356 miliar.
Dalam pengumuman pada Senin, 12 Oktober 2026, Character.AI menyatakan telah memulai proses sukarela Chapter 11 di Delaware. Prosedur hukum tersebut memungkinkan perusahaan menjalankan proses restrukturisasi dan penjualan aset dengan pengawasan pengadilan.
Dikutip dari laporan Business Insider pada 13 Oktober 2026, Character.AI memperkirakan proses penjualan dapat diselesaikan pada akhir November atau awal Desember 2026.
Disney Worldwide Services, afiliasi The Walt Disney Company, telah mencapai kesepakatan untuk menjadi penawar awal dalam proses penjualan aset tertentu milik Character.AI. Kesepakatan itu mencakup lisensi non-eksklusif dan berlaku tanpa batas waktu atas sebagian kekayaan intelektual serta klaim tertentu milik perusahaan.

Disney akan membayar US$20 juta dan menyediakan layanan transisi dengan memanfaatkan mantan karyawan Character.AI yang telah direkrutnya.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum berarti Disney otomatis menjadi pemilik seluruh perusahaan. Proses kebangkrutan tetap membuka kesempatan bagi calon pembeli lain untuk mengajukan penawaran yang lebih tinggi atau lebih menguntungkan.
Disney juga baru-baru ini merekrut Karandeep Anand, mantan CEO Character.AI, sebagai chief technology officer (CTO). Perekrutan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting di tengah proses penjualan aset perusahaan AI itu.
Tekanan Hukum Membayangi Bisnis Character.AI
Character.AI tidak merinci seluruh persoalan yang mendorong pengajuan kebangkrutan atau pailit. Namun, perusahaan menghadapi tekanan hukum dan regulasi terkait dampak chatbot AI terhadap pengguna muda.
Sejumlah keluarga sebelumnya menggugat Character.AI dengan tuduhan bahwa interaksi dengan chatbot perusahaan berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental pada remaja. Beberapa perkara tersebut turut melibatkan Google.
Pada awal 2026, Character.AI dan Google dilaporkan mencapai kesepakatan prinsip untuk menyelesaikan sejumlah gugatan. Perkara itu mencakup klaim keluarga remaja yang meninggal dunia akibat bunuh diri atau mengalami tindakan menyakiti diri setelah menggunakan chatbot. Ketentuan penyelesaian tidak diungkapkan.
Tekanan hukum juga berlanjut. Pada Oktober 2026, jaksa agung Kentucky mengajukan tuduhan bahwa chatbot Character.AI mendorong perilaku berbahaya, termasuk menyakiti diri sendiri. Tuduhan tersebut merupakan bagian dari proses hukum dan bukan dengan sendirinya putusan pengadilan.
Sebelumnya, Character.AI mengumumkan pembatasan percakapan terbuka bagi pengguna di bawah usia 18 tahun sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai keselamatan anak dan remaja.
Apakah Character.AI Akan Ditutup?
Untuk saat ini, layanan Character.AI masih beroperasi. Perusahaan menyatakan pengguna tetap dapat mengakses platform, sementara langganan berbayar dan sistem penagihan tidak berubah untuk sementara waktu.
CEO Character.AI, Colin Adams, menjelaskan alasan perusahaan memilih proses penjualan melalui pengadilan. "Setelah meninjau secara menyeluruh berbagai alternatif yang tersedia, dewan kami memutuskan bahwa proses penjualan di bawah pengawasan pengadilan ini memberikan peluang terbaik bagi kami untuk memaksimalkan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Colin Adams.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pengumuman resmi Character.AI yang dipublikasikan pada 12 Oktober 2026.
Adams menegaskan bahwa perusahaan telah berupaya mempertahankan dan memperbaiki bisnisnya di tengah tekanan hukum, regulasi, dan operasional yang signifikan.
Namun, masa depan platform ini belum sepenuhnya pasti. Character.AI memperingatkan bahwa layanan dapat dihentikan apabila proses penjualan tidak menghasilkan penawaran yang memungkinkan platform terus beroperasi.
Pengguna juga masih dapat mengekspor data atau menghapus akun melalui aplikasi maupun situs web Character.AI. Perusahaan menyatakan kebijakan privasi dan keamanan datanya tetap berlaku selama proses berlangsung.
Kasus Character.AI memperlihatkan tantangan yang dihadapi perusahaan AI konsumen, khususnya layanan yang dirancang untuk membangun interaksi personal dengan pengguna.
Di satu sisi, chatbot menawarkan pengalaman percakapan yang interaktif dan fleksibel. Di sisi lain, isu keselamatan pengguna, tanggung jawab perusahaan, serta perlindungan anak menjadi perhatian yang dapat memengaruhi keberlanjutan bisnis.
Penjualan aset kepada Disney masih bergantung pada proses hukum dan kemungkinan penawaran lain. Karena itu, nasib Character.AI akan ditentukan oleh hasil proses penjualan yang ditargetkan selesai pada akhir November atau awal Desember 2026.
