Kapsultekno.com - Pendapatan AdSense YouTube di Indonesia kerap dinilai lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Singapura dan Amerika Serikat (AS). Hal ini dijelaskan oleh Country Director Google Indonesia, Veronica Utami dalam podcast YouTube Helmy Yahya Bicara.
Dalam bincang-bincang di kanal podcast tersebut, Veronica menjelaskan bahwa perbedaan nilai Cost Per Mille (CPM) atau harga per seribu penayangan iklan antarnegara terjadi secara alami sesuai mekanisme pasar (auction price).
"Basisnya AdSense itu kan berdasarkan auction price. Kenapa Indonesia dibandingkan Amerika Serikat beda monetization-nya? Karena memang industri periklanan di sana, pengiklan di sana secara auction price-nya, willing to bid-nya lebih tinggi. Sementara kalau di Indonesia kan dinamikanya daya beli masyarakatnya berbeda, sehingga advertising expense-nya berbeda," ujar Veronica Utami.

Ia menambahkan, YouTube sendiri menerapkan formula pembagian hasil iklan (revenue split) yang baku dan setara di seluruh dunia. Oleh karena itu, besarnya angka yang masuk ke kantong kreator ditentukan oleh seberapa besar pengiklan bersedia menawar (bid) untuk menayangkan iklannya kepada penonton di Indonesia.
Sebagai solusinya, pihak Google mendorong para kreator untuk tidak hanya bergantung pada AdSense sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Ekosistem YouTube saat ini telah memfasilitasi berbagai sumber pendapatan alternatif seperti YouTube Shopping / Affiliate, channel membership, fitur fitur penjangkauan brand deals (Open Call), hingga pembuatan konten berbahasa internasional untuk menjangkau penonton luar negeri yang memiliki pasar iklan lebih tinggi.
"Memang harus disadarkan bahwa cara monetisasi sekarang itu lebih beragam, jadi memang sebagai kreator kita harus pasangin kita menyalakan semua opsi yang ada, tidak hanya AdSense," tutur Veronica dalam podcast berdurasi 48 menit itu.
Selain menjelaskan mengenai adsense, Veronica juga mengungkap kontribusi YouTube terhadap ekonomi Indonesia. Sesuai dengan laporan YouTube Impact Report 2025, ekosistem kreatif YouTube menyumbang lebih dari Rp 8,4 triliun terhadap PDB Indonesia pada tahun lalu.
Tidak hanya itu, ekosistem kreatif YouTube juga mendukung lebih dari 190.000 lapangan kerja setara penuh waktu (FTE) di Indonesia pada tahun yang sama.
Lebih lanjut, Veronica menjelaskan terkait bagaimana algoritma YouTube bekerja. Menurutnya, algoritma YouTube bekerja berdasarkan preferensi dan perilaku pengguna (user behavior), bukan karena adanya keberpihakan atau preferensi terhadap topik tertentu.
"Algorithm kan pasti ada engineer kita yang building gitu kan, tapi it's actually very dependent on individual behavior gitu jatuhnya. Jadi intinya kita akan serve videos yang memang relevan dengan orangnya (penontonnya)," kata Veronica.
Ia menegaskan bahwa sebagai platform terbuka, tanggung jawab utama YouTube adalah memastikan seluruh kreator memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh (make everyone grow).
"Tapi kita enggak yang oh kita akan memprioritaskan video tentang kesehatan, enggak enggak pernah seperti itu. We are a platform, and our responsibility is to make everyone grow gitu," pungkas Veronica.
