☕ Support Us
Advertise here · www.kapsultekno.com
Robot Humanoid Kalahkan Rekor 100 Meter Usain Bolt dengan Catatan 9,32 Detik
Robot humanoid Lightning mencatat 9,32 detik, melampaui rekor 100 meter Usain Bolt yang bertahan sejak 2009.

Kapsultekno.com - Robot humanoid asal China kembali menunjukkan perkembangan pesat setelah Lightning mencatat waktu 9,32 detik dalam lari 100 meter. Catatan tersebut lebih cepat daripada rekor dunia manusia milik legenda sprint Jamaika, Usain Bolt, yang berada di angka 9,58 detik sejak 2009.

Lightning merupakan robot humanoid yang dikembangkan oleh Honor, perusahaan teknologi asal China yang lebih dikenal melalui bisnis smartphone. Robot tersebut mencatat waktu 9,32 detik dalam uji coba persiapan menjelang World Humanoid Robot Games 2026 di Beijing.

Menurut laporan The Independent, Lightning mencapai kecepatan puncak 14,5 meter per detik atau sekitar 52,2 kilometer per jam selama pengujian tersebut.

Usain Bolt mencatat rekor dunia 100 meter dengan waktu 9,58 detik ketika tampil di Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin, Jerman. Rekor tersebut masih tercatat sebagai rekor dunia hingga sekarang dan belum pernah dipecahkan oleh atlet manusia.

Dengan catatan 9,32 detik, Lightning secara matematis lebih cepat 0,26 detik dibandingkan rekor Bolt. Namun, ada perbedaan penting antara catatan Lightning dan rekor atletik manusia. Waktu 9,32 detik tersebut merupakan hasil uji coba persiapan, bukan catatan dalam perlombaan resmi manusia yang berada di bawah regulasi World Athletics.

blank
Robot Humanoid Lightning (Foto: CCTV)

Oleh karena itu, pencapaian tersebut lebih tepat disebut sebagai demonstrasi kemampuan robot dibandingkan pengganti rekor atletik manusia.

Dalam kompetisi World Humanoid Robot Games, robot lain bernama Tiangong Ultra juga mencatat hasil luar biasa. Dalam babak penyisihan 100 meter, Tiangong Ultra finis dengan waktu 9,39 detik, sementara Lightning mencatat 9,47 detik. Keduanya tetap lebih cepat daripada catatan 9,58 detik milik Bolt.

Peningkatan performa Tiangong Ultra memperlihatkan betapa cepat perkembangan robot humanoid dalam waktu singkat.

Pada edisi pertama World Humanoid Robot Games tahun 2025, Tiangong Ultra membutuhkan waktu sekitar 21,50 detik untuk menyelesaikan 100 meter. Setahun kemudian, robot tersebut mampu memangkas waktunya menjadi 9,39 detik dalam babak penyisihan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan robot tidak hanya bergantung pada perangkat keras, tetapi juga pada sistem kendali, aktuator, sensor, algoritma, serta kemampuan menjaga keseimbangan ketika bergerak dengan kecepatan tinggi.

Meski demikian, robot-robot tersebut masih memiliki kelemahan yang sangat terlihat setelah mencapai garis finis. Dalam perlombaan 100 meter, sejumlah robot kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas atau matras pengaman karena belum mampu berhenti sehalus atlet manusia.

Dengan kata lain, mampu berlari cepat belum berarti robot sudah memiliki kemampuan atletik yang setara dengan manusia dalam aspek lain.

Lightning Juga Unggul di Half Marathon

Kecepatan Lightning bukan hanya terlihat dalam lari jarak pendek. Pada April 2026, robot tersebut menjadi yang tercepat dalam Beijing Humanoid Robot Half Marathon dengan waktu 50 menit 26 detik untuk jarak 21 kilometer. Catatan itu bahkan lebih cepat daripada pace yang diperlukan untuk menyamai rekor dunia half marathon manusia.

blank
(Foto: Honor)

Saat mengikuti half marathon tersebut, Lightning memiliki tinggi sekitar 169 sentimeter dengan panjang kaki 95 sentimeter. Menjelang World Humanoid Robot Games, peneliti memperpanjang kakinya sekitar 10 sentimeter menjadi 1,05 meter.

Perubahan desain seperti ini memperlihatkan bagaimana kompetisi robot mulai menjadi tempat bagi pengembang untuk menguji konfigurasi mekanis dan sistem kendali secara langsung.

World Humanoid Robot Games 2026 berlangsung di National Speed Skating Oval Beijing, arena yang sebelumnya digunakan dalam Olimpiade Musim Dingin 2022.

Edisi kedua kompetisi tersebut diikuti lebih dari 2.000 robot humanoid dari 16 negara. Penyelenggara menyiapkan 51 jenis pertandingan yang mencakup olahraga seperti lari, sepak bola, tenis meja, angkat beban, tinju hingga tarik tambang.

Reuters melaporkan kompetisi tahun ini melibatkan 2.056 robot dari 666 tim yang berasal dari 16 negara dan enam benua. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan edisi perdana yang hanya melibatkan sekitar 280 tim.

Kompetisi tersebut juga tidak hanya menguji kemampuan robot dalam olahraga. Sejumlah pertandingan dirancang untuk mensimulasikan pekerjaan di dunia nyata, seperti lingkungan pabrik, restoran, kantor dan kondisi darurat.

Menurut Reuters, terdapat 51 kategori pertandingan yang terdiri dari 30 kompetisi olahraga dan 21 skenario berbasis pekerjaan. Lebih dari 40 persen pengujian mengharuskan robot beroperasi secara otonom.

China Dorong Robot Humanoid untuk Dunia Industri

Perkembangan robot humanoid di China tidak berhenti pada kompetisi. Pemerintah dan perusahaan teknologi di negara tersebut menjadikan robotika humanoid sebagai salah satu sektor strategis untuk dikembangkan.

Robot humanoid diproyeksikan dapat digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari manufaktur, logistik hingga aplikasi konsumen. Karena itu, ajang seperti World Humanoid Robot Games tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji kemampuan perangkat keras dan sistem kecerdasan buatan dalam berbagai kondisi.

Momentum tersebut juga beriringan dengan meningkatnya perhatian investor terhadap industri robotika China. Reuters mencatat saham Unitree, salah satu produsen robot humanoid terkemuka di China, melonjak lebih dari lima kali lipat ketika perusahaan tersebut mulai diperdagangkan di Shanghai.

Di sisi lain, perkembangan teknologi ini juga memicu kekhawatiran keamanan di Amerika Serikat. The Independent melaporkan bahwa Federal Communications Commission (FCC) pada Juli 2026 mengumumkan larangan terhadap impor robot humanoid buatan asing baru dengan alasan keamanan nasional, sebuah kebijakan yang berdampak terutama terhadap produk asal China.

Robot Perlu Pengembangan agar Semakin Sempurna

Rekor 9,32 detik Lightning memang menjadi demonstrasi menarik mengenai kemampuan robot humanoid modern. Namun, kemampuan berlari lebih cepat dari manusia bukan berarti robot telah mengungguli manusia dalam seluruh aspek.

Justru, tantangan terbesar berikutnya adalah membuat robot mampu melakukan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi, ketelitian dan kemampuan beradaptasi.

Dalam World Humanoid Robot Games 2026, kemampuan tersebut diuji melalui berbagai tugas praktis. Robot harus melakukan pekerjaan seperti memasang kabel, menangani objek, melakukan perakitan serta menyelesaikan tugas dengan tingkat presisi tertentu.

Hal ini penting karena robot yang berguna di dunia nyata tidak cukup hanya memiliki motor yang kuat dan dapat bergerak cepat. Robot juga harus mampu mengenali lingkungan, mengambil keputusan, mengoreksi kesalahan dan menyelesaikan tugas tanpa terus-menerus dikendalikan manusia.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *