Space Available (975x90)
Space Available (350x50)
Prediksi Tren AI di 2026, Data Kini Lebih Penting dari Komputasi
Teknologi AI pada 2026 akan berkembang menjadi disiplin ilmu, bukan lagi sekadar eksperimen, serta bagaimana fase pertumbuhan berikutnya di Asia Tenggara akan bergantung pada jalur data yang terkelola dengan baik.

Kapsultekno.com - Tahun 2025 menjadi momentum ketika teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan benar-benar masuk tahap penerapan nyata. Pusat data tumbuh di Asia Tenggara, permintaan GPU melonjak dan perusahaan mulai mengoptimalkan AI dalam operasional sehari-hari.

Akan tetapi, peningkatan adopsi ini juga menyoroti tantangan baru seperti keterbatasan daya, biaya tinggi, pengelolaan data yang belum matang, hingga regulasi yang belum seragam.

Di tahun depan, ada beberapa catatan mengenai lanskap teknologi regional, khususnya yang berkaitan dengan teknologi AI. Catatan atau pandangan ini disampaikan oleh Lawrence Yeo, ASEAN Solutions Director, Hitachi Vantara.

Baca Juga: Vivo X300 Series Bawa Terobosan Baru Berkat Lensa Kamera 200 MP

Ia menjelaskan mengapa AI pada 2026 akan berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu, bukan lagi sekadar eksperimen, serta bagaimana fase pertumbuhan berikutnya di Asia Tenggara akan bergantung pada jalur data yang terkelola dengan baik, infrastruktur hemat energi, dan model hybrid yang tangguh.

Masalah Utama Bukan Lagi Komputasi, Melainkan Data

Selama dua tahun terakhir, banyak organisasi mengira AI hanya soal menambah akselerator dan memperbesar kapasitas komputasi. Faktanya, hambatan terbesar kini adalah data, yakni cara memindahkan, mengelola, dan mengamankannya dalam skala besar.

Arsitektur penyimpanan, jaringan, serta disiplin operasional menjadi titik kritis untuk memastikan sistem AI dapat berjalan andal.

Fase baru AI juga akan bersifat agentic, di mana sistem mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan di sektor keuangan, kesehatan, logistik hingga manufaktur. Ini memunculkan kebutuhan baru akan transparansi, keamanan, dan akuntabilitas, ditopang data berkualitas serta infrastruktur yang efisien dan tahan lama.

Baca Juga: Komdigi Minta Operator Seluler Bangun Sistem Anti Scam Berbasis AI

Tolok Ukur Keberhasilan Organisasi Mengelola Data

Permintaan AI di Asia Tenggara terus naik, tetapi kapasitas fisik, daya, lahan, dan pendinginan semakin terbatas. Ekspansi pusat data di Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina kini terhambat oleh ketersediaan daya dan lahan.

Modernisasi infrastruktur menjadi keharusan agar penggunaan AI tetap efisien secara ekonomi dan ramah lingkungan. Di sisi lain, negara-negara di kawasan memperkuat ekspektasi terkait lokasi penyimpanan data dan keamanan siber.

Model masa depan bukan lagi memilih antara public cloud atau on-premises, tetapi hybrid yang menggabungkan kontrol lokal dan mobilitas data yang aman.

Menuju 2026, pemenangnya adalah organisasi yang memperlakukan data sebagai aset strategis. Kematangan AI tidak diukur dari seberapa besar komputasinya, melainkan seberapa disiplin dan efisien mereka mengelola ekosistem data end-to-end.

2 thoughts on “Prediksi Tren AI di 2026, Data Kini Lebih Penting dari Komputasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top