☕ Support Us
Advertise here · www.kapsultekno.com
Jensen Huang Terima Panggilan Telepon Presiden Trump, Galaxy Z Fold8 Jadi Sorotan
Jensen Huang menerima telepon Trump saat membahas AI, sementara Samsung Galaxy Z Fold8 yang digunakannya ikut menarik perhatian.

Kapsultekno.com - CEO Nvidia Jensen Huang menjadi perhatian dalam gelaran All-In Summit di Los Angeles, Amerika Serikat, Senin (14/9/2026). Bukan hanya karena pembahasannya mengenai masa depan kecerdasan buatan (AI), tetapi juga karena ia menerima panggilan telepon langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berada di atas panggung.

Panggilan tersebut berlangsung ketika Huang bersama para pembawa acara All-In membahas perdebatan mengenai apakah perkembangan AI perlu diperlambat. Huang kemudian mengaktifkan speakerphone agar percakapan dengan Trump dapat didengar oleh para peserta acara.

Percakapan Huang dan Trump berfokus pada perdebatan mengenai risiko AI serta seruan untuk memperlambat pengembangan teknologi tersebut. Sebelumnya, CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar industri memperlambat laju peningkatan kemampuan AI.

Trump mengambil posisi berlawanan. Menurut Presiden AS tersebut, kekhawatiran yang berkembang justru dapat menguntungkan pihak yang ingin menghambat perkembangan teknologi Amerika Serikat, termasuk China.

“Ini adalah tipuan (hoax),” ujar Donald Trump kepada Jensen Huang dalam percakapan tersebut, seperti dikutip TechCrunch.

Huang kemudian memberikan respons yang menunjukkan dukungannya terhadap pandangan Trump. “Kamu benar. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi, Pak," kata Jensen Huang, CEO Nvidia.

Trump juga mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan secara hati-hati, tetapi bukan berarti industri tersebut harus dihentikan. Ia menegaskan keinginannya agar Amerika Serikat tetap menjadi pemimpin dalam pengembangan AI.

Ponsel Lipat Jensen Huang Ikut Menarik Perhatian

Selain percakapan dengan Trump, perangkat yang digunakan Huang untuk menerima telepon juga menjadi sorotan. TechCrunch sempat mengidentifikasi perangkat tersebut sebagai iPhone Duo.

Namun, TechCrunch kemudian menerbitkan koreksi. Perangkat yang terlihat di tangan Huang tampaknya merupakan Samsung Galaxy Z Fold8. Publikasi tersebut menghapus penyebutan iPhone Duo serta kesimpulan yang sebelumnya dibuat berdasarkan identifikasi perangkat yang keliru.

Huang terlihat menerima perangkat foldable tersebut sebelum menjawab panggilan Trump. Kehadiran Galaxy Fold 8 menjadi detail menarik karena CEO Nvidia dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh dalam perkembangan industri AI.

Perdebatan AI Makin Memanas

Pernyataan Huang dan Trump muncul ketika industri teknologi tengah menghadapi perdebatan mengenai seberapa cepat AI harus dikembangkan.

Dario Amodei sebelumnya menyerukan perlunya memperlambat peningkatan kemampuan AI. Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman juga disebut mendukung kekhawatiran terkait perkembangan AI yang terlalu cepat.

Sebaliknya, Huang secara terbuka mengambil posisi yang lebih mendukung keberlanjutan laju pengembangan teknologi tersebut.

Perdebatan ini tidak hanya menyangkut keamanan AI, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan pusat data, konsumsi energi, investasi infrastruktur, serta persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Dengan Nvidia sebagai salah satu pemasok utama chip untuk pengembangan AI, posisi Huang menjadi penting dalam perdebatan tersebut. Pada saat yang sama, kekhawatiran publik terhadap pembangunan pusat data juga meningkat.

TechCrunch mengutip survei Gallup yang menunjukkan tujuh dari 10 warga Amerika menentang pembangunan pusat data di wilayah mereka, dengan dampak terhadap sumber daya lingkungan menjadi salah satu alasan utama.

Riset ilmiah menunjukkan bahwa perkembangan AI memang memiliki pengaruh terhadap lingkungan, terutama air. Pusat data membutuhkan air untuk pendinginan server, sementara pembangkitan listrik dan produksi semikonduktor juga membutuhkan air.

Riset "Making AI Less ‘Thirsty’: Uncovering and Addressing the Secret Water Footprint of AI Models" (Li dkk., 2023) mengungkap dampak lingkungan berupa jejak air (water footprint) dari pengembangan dan penggunaan model AI skala besar.

Riset tersebut mengungkap temuan utama, antara lain pelatihan model GPT-3 di pusat data Microsoft AS diperkirakan mengonsumsi sekitar 700.000 liter air tawar secara langsung untuk pendinginan server. Angka ini bisa membengkak menjadi 5,4 juta liter jika memperhitungkan penggunaan air tidak langsung (seperti air yang digunakan dalam pembangkitan listrik).

​Selain itu, riset juga mengungkap setiap kali pengguna melakukan percakapan atau perintah singkat (sekitar 20–50 pertanyaan) dengan ChatGPT-3, sistem mengonsumsi air setara satu botol air mineral (500 ml).

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *