Space Available (975x90)
Space Available (350x50)
IBM Sovereign Core Meluncur Perkuat Kedaulatan Digital di Era AI
IBM Sovereign Core membantu organisasi mengelola AI berdaulat dengan aman, patuh regulasi, dan kendali penuh.

Kapsultekno.com - IBM menghadirkan IBM Sovereign Core, perangkat lunak pertama di industri yang dirancang untuk mendukung penerapan lingkungan AI berdaulat bagi perusahaan, instansi pemerintah, dan penyedia layanan.

Solusi ini memungkinkan organisasi membangun, menerapkan, dan mengelola sistem TI secara mandiri, aman, serta patuh terhadap regulasi yang berlaku.

Peluncuran ini diumumkan IBM pada 2 Februari 2026, di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap transparansi, tata kelola teknologi, dan kontrol penuh atas infrastruktur digital, terutama untuk beban kerja kecerdasan buatan (AI).

Kedaulatan digital kini tidak hanya menyangkut lokasi penyimpanan data, tetapi juga siapa yang mengoperasikan sistem, bagaimana data diakses dan dikelola, serta di bawah yurisdiksi mana model AI dijalankan.

Baca Juga: Tren AI 2026: IBM Ungkap Sovereign AI hingga Komputasi Kuantum

Namun, banyak organisasi masih belum memiliki platform terintegrasi yang mampu menjawab seluruh kebutuhan tersebut.

Gartner bahkan memprediksi bahwa lebih dari 75% perusahaan global akan memiliki strategi kedaulatan digital pada 2030 melalui pendekatan sovereign cloud.

Menjawab Tantangan Regulasi dan AI di Kawasan ASEAN

Tekanan untuk mengadopsi AI sekaligus mematuhi regulasi kedaulatan data juga dirasakan kuat di kawasan Asia Tenggara.

“Di seluruh kawasan ASEAN, banyak organisasi menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengembangkan penggunaan AI, sekaligus harus mematuhi regulasi dan kedaulatan data yang semakin kompleks. Perusahaan membutuhkan kontrol yang lebih besar atas bagaimana data yang sensitif dan beban kerja AI dapat diakses serta dioperasikan," ujar Catherine Lian, General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN melalui keterangan resminya.

blank

Ia mengatakan, melalui IBM Sovereign Core, banyak organisasi dapat meningkatkan inisiatif AI dengan penuh keyakinan, tetap menyeimbangkan keterbukaan dan agility bersama kepatuhan serta otonomi operasional yang dibutuhkan untuk mendukung kedaulatan.

"Perubahan ini memungkinkan ASEAN untuk mempercepat adopsi AI yang tepercaya sekaligus mempertahankan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam kawasan,” tuturnya.

Kedaulatan Jadi Fondasi Perangkat Lunak

Berbeda dari pendekatan konvensional yang menambahkan kontrol kedaulatan di atas sistem yang sudah ada, IBM Sovereign Core menjadikan kedaulatan sebagai fondasi utama perangkat lunak.

Solusi ini dibangun berbasis teknologi open-source Red Hat dan memungkinkan organisasi mengelola beban kerja cloud-native dan AI sepenuhnya di bawah kendali mereka sendiri.

IBM Sovereign Core menawarkan sejumlah kapabilitas utama, mulai dari control plane yang dioperasikan langsung oleh pelanggan, pengelolaan identitas dan kunci kriptografi dalam batas yurisdiksi, hingga dukungan kepatuhan berkelanjutan yang dapat diaudit.

Baca Juga: Teknologi AI IBM Watsonx Catat Data Penting Selama Pertarungan UFC

Selain itu, inferensi AI dapat dijalankan secara lokal tanpa memindahkan data ke pihak eksternal, serta mendukung implementasi cepat dan fleksibel di berbagai infrastruktur.

“Pembahasan mengenai kedaulatan AI selama ini lebih banyak berfokus pada isu data residency, padahal itu baru sebagian dari persoalannya,” ujar Sanjeev Mohan, Principal, SanjMo.

“IBM Sovereign Core menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang mengendalikan sistem dan apakah kendali tersebut dapat dibuktikan kepada regulator? IBM menerapkan pendekatan yang holistik yang mencakup data, operasional, teknologi, dan jaminan dengan pemantauan yang berkelanjutan. Seiring dengan penerapan AI dalam operasional produksi, akuntabilitas berkelanjutan semacam ini menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan," jelasnya.

Fleksibilitas Arsitektur dan Kolaborasi Global

IBM Sovereign Core dapat diterapkan di pusat data on-premises, cloud regional, maupun melalui penyedia layanan TI. IBM memulai kolaborasi dengan mitra di Eropa, termasuk Cegeka di Belgia dan Belanda serta Computacenter di Jerman, untuk menghadirkan layanan kedaulatan digital yang dikelola secara lokal.

blank

Baca Juga: Komputasi Kuantum Terbaru Lebih Canggih Dibanding Komputer Klasik

“AI mempercepat perubahan isu kedaulatan dari sekadar konsep menjadi bagian dari operasional sehari-hari,” ujar Erik Fish, Director of Geotechnology, Eurasia Group.

“Seiring dengan semakin eratnya keterkaitan antara geopolitik, regulasi, dan tata kelola data, pemerintah dan pelaku usaha perlu bergerak cepat sekaligus menunjukkan kendali yang jelas atas data dan infrastruktur yang bersifat kritikal. Tantangan saat ini bukan lagi soal memilih antara keterbukaan dan kedaulatan, melainkan bagaimana cara mengelola data, akses, dan infrastruktur di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan dinamika geopolitik," terangnya.

Kemitraan ini dinilai dapat mempercepat adopsi AI yang patuh regulasi sekaligus memberi keleluasaan bagi organisasi yang sebelumnya belum siap menerapkan solusi AI berskala besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top