Kapsultekno.com- Platform random chat atau layanan obrolan acak menjadi bagian dari pengalaman digital jutaan orang di seluruh dunia selama lebih dari satu dekade. Awalnya dianggap sebagai cara yang menyenangkan untuk bertemu orang baru secara spontan, namun seperti pisau bermata dua, Random Chat tetap memiliki risiko bahaya.
Ditinjau dari asal mulanya, model random chat mulai dikenal luas lewat situs seperti Omegle dan Chatroulette pada akhir 2000-an. Omegle, situs yang mempertemukan dua pengguna secara acak untuk melakukan percakapan teks atau video, pernah populer di kalangan remaja tanpa perlu pendaftaran atau verifikasi usia.
Situs itu akhirnya ditutup pada 9 November 2023, setelah mengalami kontroversi dan gugatan hukum atas masalah keselamatan anak, dikutip dari eSafety Commissioner.
Situs-situs tiruan dan layanan serupa terus bermunculan di berbagai platform, termasuk chat video acak seperti HOLLA, Monkey dan OmeTV, yang menawarkan pengalaman serupa kepada pengguna di seluruh dunia.
Baca Juga: Cegah Anak Terpapar Konten Negatif, Komdigi Luncurkan Situs Tunasdigital.id
Selain tiga layanan di atas, masih banyak dijumpai aplikasi sejenis yang bertebaran di internetdan platform mobile, seperti Android. Layanan atau aplikasi ini gratis dan mudah diakses oleh siapa saja, membuka peluang pertemanan dunia maya, tetapi ada kemungkinan disalahgunakan untuk aktivitas penipuan hingga konten tidak pantas.
Mengapa Layanan Ini Menarik Pengguna Muda?
Tidak seperti WhatsApp, Facebook Messenger atau Direct Message di Instagramyang menghadirkan transparansi terkait identitas personal, random chat cenderung membuat seseorang bisa "bersembunyi" dan berbuat sesuka hati mereka.
Diambil dari berbagai sumber, banyak anak dan remaja yang mencari random chat karena beberapa alasan, antara lain anonimitas, di mana pengguna tanpa perlu menuliskan nama asli atau identitas lengkap.

Baca Juga: Menkomdigi Meutya Hafid: Tunggu Anak Siap Masuk ke Dunia Digital
Alasan lainnya kesederhanaan akses. Pengguna hanya perlu satu klik untuk terhubung dengan orang asing dan alasan lainnya seperti rasa ingin tahu atau rasa kesepian, di mana platform ini memungkinkan seseorang bertemu orang baru dengan mudah.
Risiko Serius Terutama bagi Anak dan Remaja
Anonimitas menjadikan seseorang dapat bebas berbicara atau berbuat apapun karena identitas aslinya tidak akan diketahui orang lain (anonim). Tidak hanya itu, ada potensi penyalahgunaan karena aplikasi atau layanan seperti ini dapat mengarahkan seseorang pada:
Eksposur Cepat ke Konten Tidak Pantas
Menurut eSafety Commissioner, layanan random chat mencocokkan pengguna secara langsung tanpa proses moderasi yang efektif. Anak bisa langsung terpapar konten seksual atau eksplisit dalam hitungan detik setelah masuk ke ruang obrolan.
Predator dan Online Grooming
Masih menurut eSafety Commissioner, platform anonim dapat menjadi gerbang bagi eksploitasi seksual dan manipulasi oleh orang dewasa karena kurangnya verifikasi usia dan sifat pairing acaknya.
Kasus nyata menunjukkan risiko ini bukan sekadar teori, Omegle dilaporkan menandai lebih dari 500.000 contoh materi penyalahgunaan seksual anak pada 2022. Sebuah keluarga di AS memenangkan gugatan hukum setelah anak mereka berusia 11 tahun dipaksa membuat konten eksplisit melalui situs ini.
Dampak Psikologis dan Keamanan Digital
Risiko lain termasuk cyberbullying, tekanan teman sebaya dan sextortion (pemerasan seksual di internet). Platform anonim juga memungkinkan percakapan dipantau, direkam atau disalahgunakan tanpa sepengetahuan pengguna.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pendekatan predator sering kali dimulai lewat pendekatan awal yang tampak ramah, kemudian berlanjut ke eksploitasi lebih jauh melalui platform lain yang lebih privat, mengutip Thorn.
Potensi Bahaya Random Chat
Beberapa studi dan laporan memberikan gambaran lebih dalam tentang ancaman ini. Laporan eSafety Australia menegaskan bahwa layanan random chat seperti Omegle atau chat sejenis dapat mempertemukan anak dengan orang dewasa yang berpotensi melakukan tindakan berbahaya.

Penelitian dari organisasi keamanan online seperti INEQE Safeguarding Group) menyatakan platform anonim sering mengandung risiko seperti konten dewasa, tekanan agar anak melakukan tindakan yang tidak pantas, atau eksploitasi data pribadi mereka.
Baca Juga: xAI Perbaiki Sistem Usai Grok AI Bisa Ubah Foto Orang Tanpa Busana
Riset perilaku online remaja tentang pendekatan dan manipulasi (yang juga mencakup konteks komunikasi anonim) menunjukkan bahwa 40 persen remaja pernah didekati oleh seseorang dengan niat manipulatif dan 65 persen pernah diajak pindah ke percakapan yang lebih privat.
Upaya Perlindungan dan Pesan untuk Orang Tua
Organisasi keselamatan digital dan pemerintah di beberapa negara mulai merespon dengan peringatan dan panduan untuk orang tua tentang risiko layanan anonim. Selain itu, ada edukasi anak tentang perilaku online yang aman seperti tidak berbagi informasi pribadi, serta melaporkan perilaku tidak pantas, menurut eSafety Commissioner.
Orangtua juga diharapkan menaruh perhatian pada keselamatan digital anak-anak mereka. Orangtua bisa mengontrol atau mengawasi, bahkan membatasi akses aplikasi berisiko melalui pengaturan perangkat.
Baca Juga: Cegah Anak Terpapar Konten Negatif, Komdigi Luncurkan Situs Tunasdigital.id